Apa Parameter Anies Sandi Sukses Bangun Jakarta?

Apa Parameter Anies Sandi Sukses Bangun Jakarta - Gubernur yang kalah pada Pilkada lalu, Ahok, memang diakui mempunyai kinerja bagus. Jakarta mulai memperlihatkan keteraturan, meskipun belum seratus persen seperti yang diharapkan. Ia misalnya, berani menggusur Kali Jodo yang terkenal sebagai pusat prostitusi, peredaran narkoba, dan lain-lain, menjadi ruang publik yang menyenangkan - di samping ruang-ruang publik lainnya yang berhasil ia bangun.

Pedagang-pedagang kaki lima sebagai salah satu biang kemacetan dan kesemrawutan banyak yang bisa ia atasi. Sampah di kali Ciliwung berhasil ia tangani. Banjir berkurang. Mentalitas dan kedisiplinan PNS DKI berubah signifikan, pelayan terhadap masyarakat membaik. APBD DKI pun terkendali, bebas dari akal-akalan para anggota Dewan, korban penggusuran diberi rumah susun.

Meski selalu mematik kontroversi, tapi satu hal membuktikan: selama berpegang pada aturan, tak ada celah untuk menjatuhkannya. Sesuatu yang selama ini sebelum Ahok menjadi Gubernur selalu menjadi isu yang tak pernah kelihatan hasilnya. Di tangan Ahok wajah Jakarta berubah.

anies-sandi
Anies - Sandi
Sayang ia terpeleset dengan perkataannya di Kepulauan Seribu yang dianggap sebagai penodaan agama (Islam), memicu gelombang demonstrasi yang besar. Kemudian ia pun diadili dengan tuduhan penodaan agama. Analisa politik bisa beragam, karena Jakarta memang pusatnya politik nasional. Untuk menggusur Ahok agar tak terpilih kembali, berbagai isu digoreng dan dihembuskan secara kasar.

Tak ada pilihan bagi Anies-Sandi selain menjadi Gubernur yang lebih baik dari Ahok-Jarot.

Apa Parameter Anies Sandi Sukses Bangun Jakarta?


Kalau Ahok dianggap sukses membangun Jakarta dengan prestasi yang signifikan, kemudian tentu pertanyaannya: parameter apa yang bisa menjadi ukuran Anies Sandi lebih sukses dari Ahok. Dengan proses Pilkada yang begitu keras, kemenangan Anies Sandi yang sesungguhnya bila ia bisa membangun Jakarta lebih dari yang dicapai Ahok, bahkan yang tidak terpikir oleh Ahok sekalipun.

Tapi kesuksesan pertama-tama adalah mempertahankan hasil pembangunan Ahok yang diakui oleh masyarakat DKI sudah baik. Pemukiman liar misalnya, ada cerita dari Kampung Akuarium yang sedang digusur Ahok saat Pilkada berlanjut. Ketika Ahok kalah, para pemukim liar mulai berani kembali membangun gubuk-gubuk di bekas gusuran. Meraka beranggapan bahwa Anies-Sandi tidak akan sekeras Ahok.

Kalau pedagang kaki lima sudah berani berdagang sembarangan kembali, pemukiman liar kembali berdiri di bantaran kali yang sudah dibenahi Ahok, maka itu akan jadi preseden buruk pertama kegagalan Anies Sandi menjadi Gubernur-Wakil Gubernur yang lebih baik dari Ahok-Jarot.

Tak ada pilihan; Anies-Sandi harus jadi Gubernur yang lebih baik dari Ahok Jarot. Kalau tidak, maka suasana Pilkada bisa berlangsung selama ia menjabat. Pendukung Ahok begitu militan, tentu takan diam, terutama di media sosial. Anies akan terus dipelototi. Kalau ia tak lebih baik, habis lah ia jadi korban bully di media sosial.

Bahkan kalau prestasinya dianggap sama dengan Ahok-Jarot, maka Anies-Sandi tak akan dianggap berhasil. Apalagi kemenangannya dianggap mengail di air keruh. Gelombang protes pada Ahok jelas mengikis popularitas Ahok. Kekalahan Ahok bukan karena tidak diakui kinerjanya yang bagus. Tapi karena pemilih Jakarta yang religius menganggap Ahok memang menistakan agama Islam. Tiidak memilih Ahok dengan alasan agama sangat dominan di putaran kedua Pilkada Jakarta. Itu dibuktikan pada hasil exit pool.




Comments

Popular posts from this blog

HTI Dibubarkan, Gagasan Khilafah Takan Berhenti